25 June 2024

KEDAINEWS.COM – Kementerian Kesehatan mencatat laki-laki lebih banyak terinfeksi positif virus corona (Covid-19) jika dibanding dengan perempuan di Indonesia sejak kasus pertama diumumkan pada 2 Maret lalu.

Data Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Ditjen P2P Kemenkes) menunjukan hingga 23 April 2020 jumlah laki-laki terjangkit virus corona mencapai 59,1 persen, sedangkan perempuan hanya 40,9 persen dari keseluruhan jumlah pasien positif Covid-19.

“Per 23 April 2020 mencatat jumlah laki-laki positif virus Corona sebanyak 3.966 orang, sedangkan 2.489 perempuan,” kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Agus Wibowo melalui rilis resmi merujuk pada data Ditjen P2P, Minggu (26/4).

Dalam pencatatan itu, Ditjen P2P Kemenkes pun membagi pengelompokan empat rentang usia untuk melihat jangkitan virus tersebut terhadap laki-laki dan juga perempuan.

Agus mengatakan berdasarkan kelompok umur 18-65 tahun, jumlah laki-laki positif Covid-19 pada kelompok usia itu berjumlah 3.405 orang, sementara perempuan 2.352 orang.

Sedangkan, untuk kelompok usia di atas 65 tahun, jumlah laki-laki yang terjangkit adalah 440 orang dan perempuan 291 orang.

Per data tersebut diolah untuk disajikan yakni pada 23 April, Pasien laki-laki yang dinyatakan sembuh sejumlah 518 orang dan pasien perempuan yang sembuh sebanyak 366 orang.

Jumlah korban meninggal pun didominasi laki-laki yang berjumlah 394 orang atau 69,1 persen, sementara perempuan hanya 176 orang atau 30,9 persen.

Secara keseluruhan, jumlah pasien terpapar Covid-19 pada rentan usia 18-65 tahun atau produktif pun terlampau tinggi dan mendominasi.

Jumlahnya mencapai 5.757 kasus, sementara pada kelompok usia 0-4 tahun hanya 51 kasus, kelompok 5-17 tahun hanya 175 kasus, dan kelompok usia di atas 65 tahun hanya 731 tahun.

Menurut Agus, hal tersebut menunjukkan kelompok produktif atau pada rentan usia 18-65 tahun diduga karena mobilitas yang tinggi di tengah masyarakat.

“Tidak hanya produktif, kelompok tersebut juga memiliki mobilisasi tinggi di masyarakat. Mobilitas ini dapat dihubungkan dengan faktor sosial-ekonomi,” kata dia.

Agus juga menyinggung soal mobilitas yang mengaitkan dengan tingginya terinfeksi corona itu dengan penularan terhadap anggota keluarga di rumah. Apalagi, kata dia, kini ada kategori infeksi Covid-19 dengan status Orang Tanpa Gejala (OTG).

Previous post Bagaimana Vietnam Buka Lockdown Tanpa Kasus Meninggal?
Next post Room, Layanan Video Call untuk 50 Orang dari Facebook