Pemerintah Amerika Serikat (AS) menerapkan tarif baru yang berdampak besar terhadap produk-produk global, termasuk iPhone buatan Apple. Karena sebagian besar iPhone masih diproduksi di China—yang kini dikenai tarif hingga 54%—Apple kemungkinan besar akan menaikkan harga produknya secara signifikan.
iPhone Bisa Naik Harga hingga 43%
Para analis memperkirakan bahwa Apple akan menaikkan harga iPhone hingga 30–43%. Jika hal ini terjadi, konsumen harus membayar lebih mahal untuk perangkat yang sama. Misalnya, iPhone 16 yang saat ini dijual US$799 (sekitar Rp 13 juta) bisa melambung hingga US$1.142.
Sementara itu, iPhone 16 Pro Max, yang kini dibanderol US$1.599, berpotensi naik hampir ke US$2.300.
Apple menghadapi dua pilihan sulit: menyerap seluruh biaya tambahan atau membebankannya kepada pelanggan. Para analis menilai, jika Apple memilih opsi kedua, maka konsumen akan menanggung beban tarif secara langsung.
Saham Apple Jatuh Hampir 10%
Kebijakan tarif ini juga membuat pasar bereaksi negatif. Saham Apple turun 9,3% pada Kamis, mencatat hari perdagangan terburuk sejak Maret 2020. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap dampak jangka panjang dari konflik dagang ini.
Apple Gagal Menarik Minat Lewat Fitur Baru
Apple sebelumnya berharap bisa meningkatkan penjualan melalui fitur baru bernama Apple Intelligence. Fitur ini memungkinkan pengguna untuk merangkum notifikasi, menulis ulang email, hingga mengakses ChatGPT secara langsung.
Namun, analis menilai fitur ini gagal membangkitkan antusiasme pasar. Penjualan iPhone di pasar utama seperti AS, China, dan Eropa pun melambat, meski Apple menjual lebih dari 220 juta unit per tahun.
Analis Prediksi Kenaikan Harga Terjadi di iPhone 17
Menurut Angelo Zino dari CFRA Research, Apple kemungkinan akan menunda kenaikan harga besar sampai peluncuran iPhone 17 pada musim gugur 2025. Biasanya, Apple menggunakan peluncuran model baru untuk menyisipkan penyesuaian harga secara lebih halus.
Neil Shah, salah satu pendiri Counterpoint Research, juga menyebut bahwa Apple perlu menaikkan harga rata-rata iPhone setidaknya 30% untuk mengimbangi bea masuk.
Apple Bisa Rugi US$40 Miliar
Barton Crockett dari Rosenblatt Securities menghitung bahwa tarif baru ini bisa membuat Apple kehilangan hingga US$40 miliar. Menurutnya, Apple tidak lagi mendapatkan perlakuan istimewa seperti sebelumnya.
“Seluruh masalah tarif China ini benar-benar bertentangan dengan harapan kami bahwa ikon Amerika seperti Apple akan diperlakukan secara lunak,” ujar Crockett, dikutip dari Reuters.